Remeh-Temeh

Tiongkok

Anda bebas menyebut negara ini: Cina atau Tiongkok. Suka-suka Anda. Saya lebih senang menyebutnya Tiongkok, terasa lebih pas saja. 

Saya mau bilang: Tiongkok itu maju sekali! Bahkan jauh di depan. Mata kita saja mungkin tak bisa melihatnya, saking di depannya. Terutama ekonominya. 

Jangan Anda bayangkan Tiongkok saat ini seperti di film-film tahun 90’an, yang orang-orangnya masih makan nasi bungkus di pinggir jalan, dengan tata kota yang semrawut dan kumuh. 

Kalau Anda ingin berkhayal soal Tiongkok sekarang, bayangkanlah New York, Tokyo, Washington DC, Seoul, Paris, London, Madrid, dan lain-lain. Anda bisa tambahi sendiri deretan nama kota hebat di dunia. Seperti itulah Tiongkok sekarang. 

Sampai-sampai, kini, menjadi ahli Tiongkok itu lebih penting ketimbang menjadi ahli Amerika. Lebih penting pula daripada menjadi ahli Indonesia. Ups.  

Saya bisa katakan Tiongkok maju, dari banyak hal. Misalnya, ekonomi. Tiongkok sudah peringkat kedua, setelah Paman Sam. Bahkan, jika Anda lihat dari sisi standar hidup, Tiongkok jauh lebih unggul. Gampangnya, gaji di Tiongkok itu besar, tapi biaya hidup jauh lebih murah ketimbang di Amerika. Anda bisa lihat sendiri datanya. Dipublikasi Bank Dunia. 

Selain itu, sains di Tiongkok tumbuh demikian pesatnya. Sulit kita kejar, yang soal buku bajakan saja kita masih ribut minta ampun. Sudah jelas kita mesti beli buku asli. Itu saja. 

Tiongkok sudah tidak memikirkan itu. Tiongkok bahkan memikirkan banyak hal yang sekarang belum ada. Terus saja begitu. dia tidak memikirkan sesuatu yang sudah ada. lha, buat apa. No novelty mungkin anggapan mereka. Hingga jika barang yang belum ada itu menjadi ada, negara lain melongo. Ngeces. Dan bergumam: kok bisa.

Soal sains. Tiongkok sudah sejak lama. Dulu kala. Zaman gak enak. Yang memang memiliki peradaban ilmu dan filsafat yang teramat mengakar. Tapi, hebatnya lagi, Tiongkok mampu menjaga itu, hingga sekarang. Sebab, banyak juga negara yang memiliki peradaban ilmu kuat tetapi tidak dijaga. Saya sungkan mau menyebut, negara mana itu. Anda saja yang menyebut, saya kasih clue: awalannya I akhirannya A. negara apakah itu? Sila isi di kolom komentar. 

Sekarang ini, Anda, kalau mau keliling Tiongkok, siapkan tabung oksigen yang banyak, karena Anda akan menemui banyak hal menakjubkan, yang membuat mulut Anda melongo. siapa tahu Anda tiba-tiba sesak nafas karena kaget. Di bawah tangan Tuan Xi Jinping, Tiongkok memang mewariskan era komunisme baru. Yang liberal ekonominya, progresif sainsnya. 

Selama bulan Juni, saya akan menulis soal Tiongkok. Di blog ini. Entah akan ada berapa seri. Mari kita nikmati.     

Standard
Remeh-Temeh

Batas (2)

sumber: unsplash

Jakarta mendung. Sejak kemarin. Tapi, hujan seperti malas turun, nempel di kaki-kaki langit. 

Di ujung jalan besar sana, Jalan Soepomo, tak pernah lengang mobil dan sepeda. Apalagi di ujung jalan satunya lagi, yang ke arah Kuningan. Busyet, ramai sekali. Karena mungkin di situ juga ada Jalan Tol. 

Jangan tanya lagi yang ke arah Pasar Minggu, Depok, Bogor. Luar biasa penuh. Meski Sabtu begini.

Hari ini saya bangun agak siang.

Kemudian, tepat jam 6 saya putuskan lari–setelah sebelumnya saya ngobrol sebentar dengan seseorang spesial di seberang sana.

Saya lari keliling Hotel Bidakara, yang persis di belakang kos Jalan Sapta. Satu dua orang terlihat khusyuk lari. Udara masih segar. Adem. Mungkin karena mendung itu tadi. 

Dua putaran, saya pulang. Keringat sudah tidak karuan.

Beberes sejenak. Nyuci baju. Dan sedikit membiasakan perut memakai alat AB Wheel. Kata orang begitu nama alatnya. Ternyata sakit sekali. Terutama untuk orang buncit seperti saya. 

Tak apa, hanya butuh waktu saja.    

Baik … saya ingin melanjutkan apa yang saya sebut batas, dari blog sebelumnya. 

Jika teman-teman belum membaca tulisan sebelumnya itu, mungkin sempatkan lima menit membacanya. 

“Kenapa judulnya batas?” seorang teman WA saya. Rupanya dia membacanya.

“Hanya kosa kata itu yang terpikir di kepalaku.” Balas saya. Singkat.

Setelah saya menulis Batas, beberapa hari kemudian saya membacanya lagi. Terasa begitu gloomy. Kelam. Dan penuh abstraksi. Saya merasa bersalah kenapa harus menulis seperti itu. Kenapa tidak yang lain saja. Misalnya sesuatu yang menggembirakan dan seru. 

Tapi, kemudian saya berpikir lagi, mungkin memang harus seperti itu yang saya tulis. Apa adanya. Jika pengin sesuatu yang menggembirakan, saya akan menulis soal kuliner, di sekitar sini yang menurut saya paling enak. Nanti saya akan cerita.  

Jam-jam berikutnya, setelah membaca lagi blog itu, saya timbul kesadaran baru. Semacam ada fase-fase baru. Dan saya terpikir ini: hidup itu terbagi-bagi ke dalam bagian-bagian. Ada sekat-sekatnya. Ada kamar-kamarnya. Tidak lempeng, los, tanpa bagian.  

Itu teori saya sendiri. 

Dengan teori aneh seperti itu, saya berusaha mengartikan posisi saya sebagai proses memasuki kamar baru. Yang benar-benar harus dipelajari dan dinikmati dengan riang gembira.

Setelah saya pikir-pikir, saya pernah mengalami fase perpindahan kamar sebelumnya, yakni ketika saya harus hidup di asrama, di Jogja, 13 tahun lalu. 

Jam-jam awal di hari 13 tahun lalu itu, membikin hati dan pikiran dag dig dug ser. Lha gimana lho, saya, yang biasa hidup di rumah yang orangnya sedikit, tiba-tiba harus hidup beramai-ramai berdua puluh dalam satu kamar. 

Tapi, di situlah untuk pertama kali saya mengenal karakter manusia. Yang berbeda-beda. Yang unik-unik. Tak ada yang sama. 

Memang, Tuhan itu arsitek terbaik, yang membuat semua manusia tak sama persis karakternya.

Di kamar yang berdua puluh itu, yang saking berbedanya satu sama lain, selalu menimbulkan konflik satu sama lain. Ada yang marah, ada yang menangis, sebel, dan seterusnya.

Saya lebih banyak menangis, karena rindu rumah. Rindu dimarahi orang tua. Rindu makan gatot di pasar deket rumah.

Jika kami kangen rumah semua, nangislah satu kamar itu. Yang isinya berdua puluh itu. Anda bisa bayangkan gimana suaranya.  

Detail-detail perpindahan kamar dari kanak-kanak menjadi remaja itu saya lalui dengan penuh suka cita. Setelah fase itu, kemudian, saya menemukan kebahagiaan baru, oleh sebab di hari-hari berikutnya, saya menyadari bahwa saya memang kudu melangkah. Kalau tidak ya bukan manusia yang hidup. 

Itu batas yang lama. Sekarang, saya proses memasuki batas yang baru. 

Tidak tahu mengapa, saya begitu antusias melalui batas yang baru ini. Mungkin karena ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yang jika saya dulu berdua puluh dalam satu ruangan, kini saya membagi hidup berdua dengan seorang perempuan baik dan cantik jelita. Siapakah dia? Nanti, ya. 

Saya pede saja. Ini adalah batas paling menarik dalam hidup saya.   


Menteng Dalam, 29 Mei 2021

Standard
Remeh-Temeh

Batas

unsplash

Hari libur seperti ini, menjadi afirmasi saya bangun siang. Tapi begitu, sejak semalam dan malam-malam sebelumnya, saya tersadarkan oleh kenyataan, saya akan berusia 26, tepat Juni 2021. 

Sebelumnya itu, minggu-minggu lalu, ketika saya merayakan idulfitri di rumah, di Banyuwangi, saya menyadari dan bergumam, ini barangkali akan menjadi idulfitri terakhir yang saya bebas mengambil hari liburtidak perlu memikirkan apa dan siapa

Pikiran yang terakhir itu, saya sebut batas.    

Saya semakin menyadari, ketika 5 Mei 2021 saya kembali rebahan dan mencium bau tanah di sekitar rumah yang basah oleh air hujan beberapa jam sebelumnya, momen itu adalah libur panjang terakhir. Yang mungkin akan sulit saya ulang. 

Saya merasai, itulah waktu terakhir saya bisa menikmati kesendirian di rumah. Saya terpikir momen itu menjadi saat terakhir sejak saya memutuskan mengambil nafas kehidupan baru tahun ini, dengan seorang gadis yang begitu manis dan cantik. 

Bahkan, ada satu momen yang tidak bisa saya lupakan, ketika lebaran, dan saya bersalaman dengan Mbak Rahmi, Mbak Nisa, Ibuk, dan Bapak, tangan saya merinding. 

hari-hari berikutnya saya semakin menyadari, lebaran tahun depan saya bukan lagi seorang anak kecil yang tidak punya tanggung jawab. Saya sudah harus menuntaskan tanggung jawab baru. 

Saya tidak peduli, saya bisa atau tidak membawa titipan itu. 

Saya hanya meyakini, jika saya jatuh—yang benar-benar tersungkur, orang-orang baik, keluarga, dan Tuhan tak mungkin meninggalkan saya begitu saja.”

Sebentar lagi saya 26. Dan, saya sebetulnya tidak ingin menjadi 26, jika dibolehkan. 

Saya hanya ingin menjadi 24, 21, atau kalau bisa 13, bahkan 5. 

Di satu sisi ada jiwa takut yang terasa pekat menguar dari dalam tubuh saya, di sisi lain janji-janji pertolongan Tuhan dan manusia selalu mendorong saya untuk melangkah, berlari, dan terus menyusuri jalan-jalan hidup yang saya sendiri tidak pernah mengerti akan seperti apa ujungnya.

Tulisan ini barangkali terasa sentimentil. Saya mohon maaf. 

Saya menulis ini dengan perasaan yang tidak menentu. Dengan iringan musik instrumental yang serampangan saya putar dari Youtube. 

Pada mesin pencari Youtube saya masukkan kata kunci, “Relaxing music”, dan muncullah musik instrumental dengan komposisi utama piano, suara burung dan gemercik air yang mengalir dari sungai-sungai alami di antara rerimbunan pepohonan hutan. Saya bisa menduga aliran air itu di sungai hutan yang rimbun karena visualisasi yang ditampilkan oleh video tersebut menunjukkan pepohonan yang berderet rungkut.  

Jujur, di beberapa kesempatan saya ingin menangis, tapi tak ada air mata yang bisa saya keluarkan. 

Saya ingin bertanya, tapi tidak ada tempat, kepada siapa saya harus bertanya. 

Dan, saya ingin menulis, berusaha membuat tulisan ini tidak emosional, tapi rasanya susah.

Mungkin Anda bisa menangkap hal lain dari aroma tulisan ini. Tapi, rasanya tetap saja. Tulisan ini memang sentimentil. Sial!

Saya merasa, persis di depan mata, ada sebuah batas yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan, semakin ke sini, batas itu semakin kentara. Jelas wujudnya. 

Batas itu adalah pemisah antara kehidupan yang masih benar-benar sendiri dan kehidupan nanti yang saya tidak sendiri lagi. 

Menyadari manusia tidak bisa menghindari batas itu, saya hanya bisa mempersiapkan diri, memperbaiki sarana dan prasarana berpikir, mental, jiwa, hati, dan hal-hal lain yang menyangkut kelangsungan hidup nanti. 

Saya sebentar lagi 26, dan ketika tepat saya 26, mungkin, tulisan ini sudah tidak relevan lagi dibaca oleh karena saya memilih kata, ‘sebentar lagi’. 

‘Sebentar lagi’ saya 26, dan saya semakin kuat-yakin bisa melalui batas ini. 




Menteng Dalam, 26 Mei 2021      

Standard